Lanskap logistik di Asia sedang mengalami perubahan besar. Sekarang, sektor ini tidak lagi hanya fokus pada volume pengiriman atau efisiensi biaya, tetapi juga pada ketahanan, penggunaan teknologi pintar, dan keberlanjutan jangka panjang.
Pada tahun 2024, kawasan Asia-Pasifik menjadi pasar logistik terbesar di dunia dengan menguasai 44,6% pangsa pasar global. Hal ini didorong oleh meningkatnya aktivitas perdagangan, kebijakan pemerintah yang mendukung, serta semakin cepatnya adopsi teknologi logistik canggih. Namun, pertumbuhan yang pesat ini juga membuat operasional menjadi lebih kompleks, karena volume pengiriman yang lebih tinggi dan tuntutan pengiriman yang lebih cepat memberi tekanan lebih besar pada sistem logistik lintas negara dan rantai pasok.
Untuk mengatasi kompleksitas tersebut, industri logistik mulai beralih ke operasional yang lebih cerdas dan berbasis teknologi. Menjelang 2026, teknologi seperti kecerdasan buatan tidak lagi hanya digunakan sebagai uji coba terbatas, tetapi sudah menjadi kebutuhan utama yang digunakan dalam perencanaan logistik sehari-hari, penentuan rute, hingga proses pemenuhan pesanan untuk berbagai skala bisnis.
1. Munculnya "Elastic Logistics" & Pengambilan Keputusan Berbasis AI
Elastic logistics menjadi tren penting bagi bisnis yang harus menghadapi kondisi perdagangan Asia yang semakin tidak stabil.
Alih-alih mengandalkan kapasitas pengiriman yang tetap dan perencanaan yang kaku, perusahaan mulai menggunakan model logistik yang fleksibel. Artinya, kapasitas bisa dinaikkan atau diturunkan sesuai permintaan real-time, musim ramai (peak season), atau gangguan mendadak. Perubahan ini banyak didukung oleh teknologi AI, seperti sistem pendukung keputusan dan AI co-pilot, yang membantu tim logistik merespons lebih cepat.
Secara operasional, AI co-pilot dapat menganalisis kondisi lalu lintas, cuaca, dan kepadatan pelabuhan untuk merekomendasikan atau langsung mengalihkan rute pengiriman secara real-time. Sementara itu, AI lainnya bisa menyesuaikan stok secara otomatis berdasarkan data penjualan dan permintaan.
Karena banyak keputusan rutin sudah otomatis, bisnis bisa mengurangi pekerjaan manual dan lebih mudah mengontrol biaya. Bagi UKM yang mengelola pengiriman lintas negara yang kompleks, kombinasi fleksibilitas dan dukungan AI ini membuat operasional lebih tangguh tanpa menambah biaya besar.
2. "China Plus One" Beralih dari Opsi menjadi Standar
China masih menjadi pusat manufaktur utama di Asia. Namun di 2026, strategi “China Plus One” tidak lagi sekadar rencana cadangan, melainkan sudah menjadi praktik umum.
Perusahaan kini tidak lagi bergantung pada satu negara produksi saja. Mereka mulai menyebarkan produksi ke beberapa negara di Asia Tenggara dan India untuk mengurangi risiko, mengontrol biaya, dan menjaga kelangsungan operasional. Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan India menjadi alternatif yang menarik karena tenaga kerja yang kompetitif, insentif pemerintah, serta kapasitas industri yang terus berkembang.
Untuk mengelola produksi multi-negara ini, perusahaan yang lebih maju memanfaatkan gudang berikat, kawasan perdagangan bebas, dan penempatan stok secara regional. Strategi ini membantu distribusi lebih efisien dan memungkinkan penundaan pembayaran bea masuk sampai barang benar-benar masuk ke pasar tujuan. Pengiriman lintas negara lewat truk serta strategi freight yang fleksibel juga membantu menjaga pasokan tetap stabil meskipun kapasitas laut atau udara berubah-ubah.
Dengan menyeleksi pemasok dari berbagai negara dan menyamakan proses kepabeanan serta kepatuhan, perusahaan dapat menjaga keamanan produksi sekaligus memiliki kelincahan untuk menghadapi lingkungan perdagangan Asia yang semakin kompleks.
3. Hyper-Local Fulfillment & Gudang Berikat
Untuk memenuhi ekspektasi konsumen yang ingin pengiriman semakin cepat dan praktis, bisnis mulai meninggalkan model gudang terpusat dan memindahkan stok lebih dekat ke pelanggan melalui strategi fulfillment regional dan hyper-local.
Dengan membuat titik distribusi yang lebih kecil serta micro-fulfillment center di dekat area perkotaan yang permintaannya tinggi, perusahaan bisa mempersingkat waktu pengiriman sekaligus mengurangi biaya transportasi dan kemacetan jalur logistik. Kedekatan lokasi ini sangat penting untuk quick commerce dan social commerce, di mana pengiriman di hari yang sama atau keesokan hari sering menentukan kepuasan dan pembelian ulang pelanggan.
Di sisi lain, gudang berikat semakin menjadi aset strategis bagi importir di Indonesia. Gudang ini memungkinkan barang disimpan tanpa harus langsung membayar bea masuk dan pajak. Biaya tersebut baru dibayar ketika barang dijual atau masuk ke pasar domestik, sehingga arus kas dan fleksibilitas modal kerja menjadi lebih baik.
4. Keberlanjutan Menjadi Kewajiban, Bukan Pilihan
Keberlanjutan kini bukan lagi program tambahan, tetapi sudah menjadi bagian wajib dalam operasional logistik di Asia Tenggara.
Hal ini didorong oleh regulasi pelacakan karbon dan kewajiban pelaporan ESG di pusat perdagangan utama, yang membuat perusahaan harus memasukkan faktor lingkungan ke dalam strategi logistik dan rantai pasok. Salah satu langkah yang banyak dilakukan adalah penggunaan kemasan sirkular yang bisa dipakai ulang dan dilacak, sehingga mengurangi limbah sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Selain itu, pemantauan jejak karbon secara real-time pada setiap pengiriman memungkinkan perusahaan mengambil keputusan berbasis data untuk menekan emisi. Jika dikombinasikan dengan armada listrik untuk pengantaran di kota-kota besar, pengiriman bisa tetap cepat, andal, dan lebih ramah lingkungan.
5. Social Commerce Lintas Negara Semakin Umum
Pertumbuhan social commerce mengubah cara perdagangan lintas negara, karena platform seperti TikTok Shop dan Shopee membuat batas antara media sosial dan logistik semakin tipis. Perubahan ini terlihat dari perilaku konsumen di Asia Tenggara: 57% pembeli menemukan produk baru melalui marketplace dan 50% melalui media sosial. Indonesia bahkan menjadi pasar terbesar di kawasan dengan nilai ekonomi digital lebih dari USD 82 miliar pada 2023.
Tren ini mendorong lonjakan pesanan internasional dengan frekuensi tinggi namun nilai per transaksi relatif kecil, yang menimbulkan tantangan logistik baru. Perusahaan kini membutuhkan sistem reverse logistics yang lancar serta alur kerja yang terintegrasi dari pembayaran hingga pengiriman untuk menangani retur dan menjaga kepuasan pelanggan.
Kecepatan menjadi standar baru bagi konsumen 2026, yang mengharapkan waktu pengiriman lintas negara bisa secepat pengiriman domestik. Dengan proyeksi pasar e-commerce Asia Pasifik mencapai USD 28,9 triliun pada 2026, bisnis yang mampu mengoptimalkan fulfillment, tracking, dan proses retur akan memiliki keunggulan kompetitif, terutama di tengah pesatnya ekonomi digital Indonesia.
Menavigasi Masa Depan Logistik Asia bersama DHL Express
Tahun 2026 menjadi era “Intelligent Logistics”, di mana keputusan berbasis data, kelincahan operasional, dan integrasi teknologi jauh lebih penting dibanding sekadar volume pengiriman. Dengan mengikuti tren-tren terbaru, bisnis Indonesia dapat meningkatkan ketahanan, menekan biaya, dan tetap unggul dibandingkan kompetitor di kawasan.
Untuk memaksimalkan peluang ini, bekerja sama dengan penyedia logistik seperti DHL Express memberikan keahlian, teknologi, dan jangkauan jaringan yang dibutuhkan untuk menghadapi kompleksitas pengiriman internasional.
Dengan salah satu jaringan pengiriman terbesar di dunia yang mencakup lebih dari 220 negara dan wilayah, DHL Express membantu bisnis Indonesia terhubung dengan pelanggan global sekaligus menyederhanakan proses kepabeanan, bea masuk, dan persyaratan kepatuhan.
Bermitra dengan DHL Express sekarang dan bawa bisnis Anda naik ke level berikutnya di tengah perkembangan lanskap logistik Asia.