Inovasi terbaru dari kemasan membuat makanan siap saji tetap segar dan semakin diminati konsumen.
Di seluruh dunia, konsumen semakin banyak membeli makanan siap saji yang tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga tetap enak dikonsumsi. Salah satu alasan utamanya adalah perkembangan teknologi kemasan yang sangat pesat, sehingga makanan yang sudah dikemas dapat bertahan lebih lama dalam kondisi segar. Seiring pertumbuhan industri makanan siap saji, berikut lima teknologi kemasan yang mendorong inovasi di industri ini.
1. MENCIPTAKAN SUASANA YANG IDEAL
Salah satu cara menjaga kesegaran makanan adalah dengan mengemasnya dalam kantong berisi campuran gas seperti nitrogen dan karbon dioksida. Metode ini dikenal sebagai Modified Atmosphere Packaging (MAP). Namun, metode ini tergolong mahal dan sebelumnya sulit dijangkau oleh produsen kecil. Kini, terobosan teknologi membuat proses serupa menjadi lebih mudah diakses. Perusahaan asal India, UFlex1 , mengembangkan lapisan film khusus yang dapat mengontrol keluar-masuknya oksigen dan karbon dioksida dalam kemasan. Teknologi ini mampu memperpanjang masa simpan produk setara dengan MAP, tanpa perlu mengisi kemasan dengan gas. Film ini telah digunakan untuk memperpanjang kesegaran berbagai hasil pertanian, mulai dari blueberry Chili hingga pisang Amerika Selatan. Menurut Siva Shankaran dari UFlex, dengan kemasan Flexfresh, pisang dapat matang secara alami dan masa simpannya diperpanjang hingga 60 hari.
2. MENCIPTAKANÂ MATERIAL CANGGIH BARU
Perkembangan nanoteknologi dan bioteknologi telah membuka peluang besar dalam memperpanjang umur simpan makanan yang mudah rusak. Dengan sifat antimikroba yang ditanamkan langsung pada lapisan kemasan, pertumbuhan bakteri dapat diperlambat. Beberapa teknologi kemasan makan canggih yang sedang dikembangkan termasuk nanopartikel perak2 untuk menghambat pertumbuhan bakteri, nanotube tanah liat3 yang mengandung minyak esensial, dan bahkan bahan berbasis krustasea4 (seperti kulit udang atau kepiting) yang diperkaya dengan ekstrak biji grapefruit untuk memperlambat pematangan dan pertumbuhan bakteri. Para ilmuwan di India juga telah berhasil menciptakan material5 yang dapat melepaskan bahan pengawet makanan dalam jumlah yang tepat sesuai kebutuhan.
Meski sebagian teknologi ini masih dalam tahap penyempurnaan sebelum diproduksi secara massal, material canggih seperti ini diperkirakan akan segera menjadi hal yang umum di pasar konsumen sehari-hari.
3. MEMANFAATKAN KEMBALI MATERIAL YANG SUDAH ADA
Selama ini wol dikenal sebagai bahan untuk menjaga tubuh tetap hangat. Namun ternyata, wol juga sangat efektif untuk menjaga suhu tetap dingin. Serat wol bahkan terbukti lebih baik dibandingkan bahan insulasi konvensional seperti polistirena dalam menjaga suhu optimal makanan, seperti daging steak atau salmon sashimi-grade, lebih lama.
Wol telah banyak digunakan dari generasi ke generasi untuk membuat kita tetap hangat.
Selain kemampuannya menjaga suhu, serat alami wol juga lebih ramah lingkungan karena dapat terurai secara alami, berbeda dengan bahan berbasis minyak bumi.
Perusahaan seperti Woolcool6 dan Puffin Packaging7 menjadi pelopor dalam penggunaan wol sebagai bahan kemasan untuk produk makanan dan medis.
4. DESAIN KEMASAN YANG INOVATIF
Desain kemasan yang baik juga berperan besar dalam menjaga suhu dan kesegaran produk. Salah satu contohnya adalah ifoodbag, yang menggabungkan kepraktisan resleting zip lock dengan keberlanjutan bahan kertas..
Kemasan ini mampu menjaga suhu tetap stabil di dalam tas sekaligus mencegah embun. Dengan harga yang terjangkau, ifoodbag dapat menjaga produk dingin dan beku tetap segar hingga 24 jam—sangat membantu bagi toko bahan makanan online.
Jaringan ritel seperti Coop dan ICA di Eropa telah mengadopsi teknologi ini, yang dikembangkan oleh startup asal Swedia. Dengan biaya yang kini setara dengan kantong kertas biasa, ifoodbag menjadi solusi yang efektif dan ekonomis bagi bisnis.
5. LABEL YANG LEBIH CERDAS
Label kemasan kini tidak hanya berfungsi sebagai informasi, tetapi juga sebagai indikator kesegaran produk.
Jika rantai dingin (cold chain) terganggu, tanggal kedaluwarsa pada produk sensitif suhu menjadi tidak lagi dapat diandalkan. Di sinilah label pintar yang memiliki indikator kesegaran seperti OnVu berperan. Label ini berubah warna secara permanen untuk menunjukkan apakah produk masih segar atau tidak.
Perubahan warna dipengaruhi oleh dua faktor: lamanya produk disimpan dalam kondisi dingin dan suhu yang pernah dialami produk tersebut.
Label inovatif lainnya bekerja layaknya tes lakmus. Misalnya, label kesegaran dari To-Genkyo di Jepang bereaksi terhadap amonia—zat yang dilepaskan ketika makanan mulai rusak. Jika terdeteksi, label akan berubah menjadi buram dan menonaktifkan barcode, sehingga produk tersebut tidak bisa dibayar di kasir.
Setiap bagian dalam rantai dingin sama pentingnya. Rantai distribusi hanya sekuat titik terlemahnya. Selain memastikan kemasan yang tepat untuk barang sensitif suhu, bekerja sama dengan mitra logistik yang andal juga sangat penting untuk menjamin pengiriman yang aman dan tepat waktu.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di laman Logistics of Things yang membahas bagaimana logistik memengaruhi bisnis, membangun koneksi jangka panjang, dan mendorong inovasi.
Â
REFERENSI:
- Â http://www.uflexltd.com/
- https://www.thehindubusinessline.com/economy/agri-business/a-silver-lining-in-storage-of-fruits-and-vegetables/article9797402.ece
- http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-4808746/Packaging-film-CLAY-keeps-food-fresh-longer.html
- https://www.todayonline.com/singapore/longer-shelf-life-food-thanks-breakthrough-packaging-tech
- https://www.nanowerk.com/nanotechnology_articles/newsid=50248.php
- https://www.woolcool.com/
- https://www.puffinpackaging.co.uk/
Â