Dalam perdagangan internasional, Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin, COO) sering disebut sebagai “paspor ekonomi” sebuah produk. Dokumen ini secara resmi menyatakan negara tempat barang diproduksi, dibuat, atau mengalami proses perubahan signifikan, sehingga pihak Bea dan Cukai dapat menentukan kelayakan perdagangan suatu produk.
Bagi negara eksportir besar seperti Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai US$ 266,33 miliar pada 2024, penentuan asal barang menjadi faktor yang sangat penting. Memahami apa itu COO dan bagaimana fungsinya sangat krusial karena dapat memengaruhi tarif, bea masuk, serta total biaya pengiriman internasional.
Dokumen COO sangat penting terutama saat mengekspor barang melalui perjanjian perdagangan seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA). COO preferensial dapat memberikan pengurangan bea masuk, sedangkan COO non-preferensial hanya berfungsi untuk menyatakan asal barang tanpa memberikan fasilitas tarif. Meskipun begitu, keduanya tetap diperlukan dalam perdagangan global. Baik eksportir pemula maupun yang sudah berpengalaman perlu memahami peran COO agar proses pengiriman berjalan lancar dan sesuai aturan.
Mengapa Certificate of Origin penting di tahun 2026
Di tengah dinamika perdagangan global saat ini, mengetahui asal produk menjadi semakin krusial. Asal barang tidak hanya menentukan tarif, tetapi juga memengaruhi risiko pemeriksaan regulasi. Kesalahan kecil dalam penulisan asal barang dapat dianggap sebagai pelanggaran kepabeanan (customs fraud) di beberapa negara, yang berpotensi menimbulkan denda besar atau bahkan masuk daftar hitam (blacklist).
Konsep utama dalam penentuan asal barang adalah Substantial Transformation (perubahan signifikan). Jika bahan baku diimpor ke Indonesia lalu mengalami proses manufaktur atau perakitan yang memberi nilai tambah besar, maka asal barang bisa berubah menjadi Indonesia. Namun, jika hanya dilakukan pengemasan ulang atau perubahan kecil, maka asal barang tetap mengikuti negara produksi awal. Perbedaan ini berdampak langsung pada bea masuk, kepatuhan regulasi, dan reputasi bisnis..
Perusahaan jasa kurir internasional sering menemukan masalah pada dokumen COO karena kesalahan penulisan atau data yang tidak lengkap dapat menyebabkan penundaan pengiriman. Oleh karena itu, bagi eksportir Indonesia, memastikan kejelasan asal barang sangat penting untuk menghindari sanksi, menjaga kepastian biaya impor di negara tujuan, dan memastikan pengiriman tepat waktu.
Contoh: Ekspor barang asal China dari Indonesia ke Amerika Serikat
Bayangkan ada eksportir Indonesia yang mengirim barang ke Amerika Serikat, tetapi barang tersebut sebenarnya berasal dari China. Meskipun secara fisik dikirim dari Indonesia, pihak Bea dan Cukai serta Perlindungan Perbatasan AS (Customs and Border Protection, CBP) akan melihat negara tempat barang diproduksi, bukan dari mana barang dikirim.
Contoh ini menunjukkan mengapa Certificate of Origin (COO) sangat penting. Walaupun barang sempat disimpan sementara atau hanya mengalami perubahan kecil di Indonesia, bea masuk Section 301 untuk produk asal China tetap berlaku, kecuali barang tersebut benar-benar mengalami Substantial Transformation (perubahan signifikan) sehingga secara hukum menjadi produk asal Indonesia.
Jika asal barang ditulis tidak sesuai atau dokumen COO tidak disertakan, risikonya bisa berupa denda, penundaan pengiriman, bahkan penyitaan oleh Bea dan Cukai. Singkatnya, COO adalah bukti utama untuk memastikan tarif yang dikenakan sudah benar dan pengiriman memenuhi aturan.
Simulasi Landed Cost: Dampak finansial COO
Untuk melihat dampak keuangannya, kita gunakan contoh pengiriman senilai US$10.000 berupa komponen mesin atau valve dengan kode HS 8481.90.90.20 ke Amerika Serikat
Ada dua skenario yang dibandingkan: satu produk dipastikan berasal dari Indonesia, sedangkan produk yang lain, sebenarnya berasal dari China, dikirim dari Indonesia tanpa mengalami Substantial Transformation.
Komponen Biaya | Produk A: Asal Indonesia (US$) | Produk B: Asal Cina (US$) |
Nilai di Invoice | 10,000 | 10,000 |
Tarif IEEPA | 1,900 (19%) | 2,000 (20%) |
Bagian 301 Bea masuk (Tiongkok) | 0 | 2,500 (25%) |
Total Bea masuk dan Pajak | 1,900 (19%) | 4,500 (45%) |
Total Landed Cost | 11,900 | 14,500 |
Simulasi sederhana ini menunjukkan bahwa meskipun barang asal China dikirim dari Indonesia, biayanya bisa lebih dari 20% lebih mahal bagi pembeli di Amerika Serikat karena adanya tarif tambahan.
Cara mengelola Certificate of Origin (COO) bagi eksportir Indonesia
Bagi eksportir, mengelola COO bukan sekadar urusan dokumen, tetapi juga alat untuk mengurangi risiko dan bagian dari strategi bisnis.
Transparansi adalah kunci: Selalu deklarasikan asal barang yang sebenarnya pada Commercial Invoice. Memberikan informasi yang tidak akurat bisa berujung pada denda atau penyitaan barang oleh Bea dan Cukai.
Simpan dokumentasi yang lengkap: Jika produk ekspor menggunakan komponen dari berbagai negara, penting untuk memiliki Bill of Materials (BOM) dan catatan produksi yang rinci. Dokumen ini membuktikan seberapa besar nilai tambah yang dilakukan di Indonesia. Data tersebut sangat penting untuk mendukung perubahan asal barang secara legal dan diperlukan saat ada audit atau pemeriksaan.
Jenis Certificate of Origin: Eksportir dapat menggunakan dokumen COO preferensial untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan seperti AFTA (mendapatkan tarif lebih rendah), dan COO non-preferensial sebagai bukti umum asal barang. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda, tergantung pada tarif, perjanjian dagang, dan kebutuhan pelanggan.
Memahami pentingnya COO membantu bisnis menghindari sanksi, membuat keputusan yang tepat, dan meningkatkan reputasi di pasar internasional. Pengelolaan COO yang baik juga memastikan eksportir Indonesia tetap patuh pada regulasi sekaligus menjaga harga tetap kompetitif bagi pelanggan.
Mengubah Certificate of Origin menjadi keunggulan strategis
Certificate of Origin bukan hanya persyaratan formal, tetapi juga alat strategis dalam perdagangan dan pengiriman internasional. Bagi eksportir Indonesia, memahami perbedaan antara negara asal barang dan negara pengiriman sangat penting untuk menghadapi tarif, perjanjian dagang, dan pengawasan regulasi.
Mulai dari deklarasi yang akurat, pencatatan dokumen yang rapi, hingga perencanaan yang matang, pengelolaan COO yang baik dapat mencegah biaya tak terduga dan membangun kredibilitas di pasar global. COO adalah salah satu elemen utama dalam logistik internasional yang menentukan kepatuhan sekaligus daya saing.
Bagi UMKM Indonesia yang ingin menyederhanakan proses ekspor, bekerja sama dengan jasa kurir internasional yang berpengalaman sangat penting. Dengan membuka akun bisnis DHL Express Anda bisa bekerja sama dengan spesialis kepabeanan untuk memastikan proses ekspor lebih aman, lancar, dan terpercaya.